Wednesday, April 13, 2011
Saturday, April 02, 2011
Monday, October 22, 2007
Sunday, August 19, 2007
Gadis Idaman
Cerita tentang kisah cinta memang tidak pernah habis. Kali ini aku ingin berbagi kisah tentang seorang gadis yang aku kagumi. Aku menulis di blog untuk menumpahkan perasaanku yang rasanya aku nggak bisa kutampung lagi.
Pertama kali aku bertemu dia, sebut saja namanya mawar, aku tidak merasakan apa-apa. Bukannya kenapa, gadis tersebut dilihat dari penampilan fisiknya sangat menarik dan aku befikir nggak mungkin dia belum punya pacar. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 160. Tubuhnya langsing dan berpakaian sangat anggun dan santun.
Beberapa kali aku berjumpa dengan dia dan saat dia memberikan senyumnya menimbulkan simpati pada saya. Saat itulah mungkin pertama tumbuh benih2 perasaanku.
Sebenarnya bukan kecantikannya yang membuat aku simpati padanya tetapi karena kecerdasannya dan kepribadiannya. Sering aku perhatikan orangnya sangat baik dengan orang, tidak suka ngegosip apalagi yang belum dia tahu kebenarannya. Selain itu, dia juga sangat penyayang terhadap anak. Mawar ini kalo mendidik anak tidak dengan kekerasan atau menakut-nakuti melainkan dengan penjelasan yang mudah dimengerti anak2. Hal inilah sebenarnya yang menambah poin bagi dia. Sama seperti prinsip saya dalam mendidik anak.
Tapi itu kenangan yang dulu. Mawar sekarang sudah berkeluarga dan suaminya kelihatannya sangat penyayang dan penyabar. Walaupun aku tidak mendapatkannya tetapi aku bersyukur dia dapat seseorang yang sepadan dengan kepribadiannya. Walaupun sekarang aku sudah memiliki seseorang pacar, Teman wanitanya yang dia yang kenalkan ke saya, saya nggak bisa melupakannya. Apalagi kalo aku melihat sampul majalah atau artis yang mirip wajahnya. Parahnya lagi kalo aku mendengar lagu My way atau Beautiful girl-nya Jose Marichan. Aku hanya bisa mendesah.
Aku mengakui bahwa aku cowok yang nggak agresif dalam menarik lawan jenis. Harusnya aku bisa belajar dari pengalaman cowok yang kini jadi suaminya. Harapanku aku bisa berubah ke depan setelah mendapati pelajaran yang menyakitkan ini.
Pertama kali aku bertemu dia, sebut saja namanya mawar, aku tidak merasakan apa-apa. Bukannya kenapa, gadis tersebut dilihat dari penampilan fisiknya sangat menarik dan aku befikir nggak mungkin dia belum punya pacar. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 160. Tubuhnya langsing dan berpakaian sangat anggun dan santun.
Beberapa kali aku berjumpa dengan dia dan saat dia memberikan senyumnya menimbulkan simpati pada saya. Saat itulah mungkin pertama tumbuh benih2 perasaanku.
Sebenarnya bukan kecantikannya yang membuat aku simpati padanya tetapi karena kecerdasannya dan kepribadiannya. Sering aku perhatikan orangnya sangat baik dengan orang, tidak suka ngegosip apalagi yang belum dia tahu kebenarannya. Selain itu, dia juga sangat penyayang terhadap anak. Mawar ini kalo mendidik anak tidak dengan kekerasan atau menakut-nakuti melainkan dengan penjelasan yang mudah dimengerti anak2. Hal inilah sebenarnya yang menambah poin bagi dia. Sama seperti prinsip saya dalam mendidik anak.
Tapi itu kenangan yang dulu. Mawar sekarang sudah berkeluarga dan suaminya kelihatannya sangat penyayang dan penyabar. Walaupun aku tidak mendapatkannya tetapi aku bersyukur dia dapat seseorang yang sepadan dengan kepribadiannya. Walaupun sekarang aku sudah memiliki seseorang pacar, Teman wanitanya yang dia yang kenalkan ke saya, saya nggak bisa melupakannya. Apalagi kalo aku melihat sampul majalah atau artis yang mirip wajahnya. Parahnya lagi kalo aku mendengar lagu My way atau Beautiful girl-nya Jose Marichan. Aku hanya bisa mendesah.
Aku mengakui bahwa aku cowok yang nggak agresif dalam menarik lawan jenis. Harusnya aku bisa belajar dari pengalaman cowok yang kini jadi suaminya. Harapanku aku bisa berubah ke depan setelah mendapati pelajaran yang menyakitkan ini.
Tuesday, December 19, 2006
Kisah Buku Tua
aku lagi sementara menyendiri ketika angin perlahan menerpa buku yang aku baca. Hal ini menyadarkan aku bahwa hari telah mendekati malam. Perlahan kuberanjak dari tempat duduk. Kurapikan kembali buku tua dan lusuh ke rak kayu. Aku amati buku itu...... hm... betapa berharganya engkau.
Buku tersebut merupakan buku ayah. Aku menemukannya diantara tumpukan buku tua lainnya di lemari buku ayahku. Aku tidak tahu berapa lama buku tersebut akan bertahan. Akankah anak-anakku bakal sempat membacanya? Yah, aku tidak tahu.
Buku tersebut merupakan buku ayah. Aku menemukannya diantara tumpukan buku tua lainnya di lemari buku ayahku. Aku tidak tahu berapa lama buku tersebut akan bertahan. Akankah anak-anakku bakal sempat membacanya? Yah, aku tidak tahu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
